emping jagung

on Senin, 09 Januari 2012




Emping jagung renyah gurih,bisa dicampur dengan bumbu aneka rasa
bumbu di jual terpisah
jual per bal Rp 32.000,- / 2 kg (mateng)
jual mentah Rp. 10.000/ kg
diluar jogja tambah ongkos kirim ya

sari kacang hijau


‘Think Like an Entrepreneur’

on Selasa, 03 Mei 2011


Sandiaga Salahuddin Uno. Foto: Tempo/Mazmur A Sembiring


‘Think Like an Entrepreneur’
Oleh Isyana Artharini, Famega Syavira Putri | Yahoo News – Sel, 3 Mei 2011 14.36 WIB




Salah satu pengusaha muda paling kaya di Indonesia Sandiaga Salahuddin Uno bercerita soal jatuh bangun membangun usaha dan pendapatnya mengenai peluang usaha yang masih terbuka di Indonesia. Ditemui Yahoo! Indonesia di kantornya di Jakarta Selatan, Sandiaga mengaku sempat mendapatkan cobaan yang membuatnya berpikir untuk menyerah.

T: Apa kesibukan Anda sekarang?

J: Aku fokus di Kadin, tapi tahun ini lebih banyak ke pengembangan bisnis. Banyak waktuku habis di Saratoga tapi di Recapital juga masih menduduki jabatan. Juga sebagai komisaris di beberapa anak usaha, ikut membantu tapi nggak day to day, hanya big picture dan strategy, dan memantau sebagai pemegang saham.

T: Anda kan terpilih sebagai salah satu orang terkaya dan termuda di Indonesia versi majalah Forbes, bagaimana sih kisah suksesnya?

J: Memulai usaha itu, hampir semua orang termasuk saya tak pernah terpikir bahwa 10 atau 14 tahun ke depan akan mencapai pencapaian seperti ini. Bagi saya bisnis itu adalah survival mode. Betul-betul terpaksa karena di-PHK. Ada krisis tahun 1997-1998 yang memaksa banyak perusahaan melakukan PHK dan saya salah satunya. Tapi itu ternyata membuka satu peluang di tengah-tengah krisis tersebut. Kalau dilihat potretnya sekarang memang sukses tapi ketika dilihat sejarahnya, banyak jatuh bangun. Ini yang saya alami, kesulitan membangun usaha sangat terasa dalam tahun-tahun pertama sampai tiga tahun pertama.

T: Apa perubahan yang terbesar dari karyawan menjadi pengusaha?

J: Sebagai pengusaha, kita harus mengubah paradigma dari seorang karyawan yang biasanya-- walaupun memberi yang terbaik-- pada akhir bulan sudah dijamin dengan segala tunjangan dan gaji yang bakal ada di rekening koran. Itu membentuk sifat karyawan yang tidak suka mengambil risiko. Seorang pengusaha jatuh bangun karena bisnis penuh risiko. Kami melihat bagaimana tanggung jawab membesarkan perusahaan dan menciptakan lapangan kerja itu tidak mudah. (Baca juga: Rahasia Sikap Mental Pengusaha)

Pada tahun-tahun pertama itu --Recapital maupun Saratoga-- saya mengalami susahnya menjalin usaha. Sulitnya mendapatkan kepercayaan dari klien dan investor. Ada suatu periode yang cukup lama, enam bulan kami sama sekali tidak mendapat order. Sampai terpikir apakah benar langkah kami menjadi pengusaha? Apakah memang mental kami lebih cocok jadi karyawan?

Tapi dengan kerja keras dan pantang menyerah, alhamdulillah. Itu nasihat orang tua selalu, ketika kita kerja keras tanpa pamrih dan ikhlas, rejeki yang akan menghampiri. Itu yang kami percaya terus.

Walaupun awalnya kami susah, jatuh bangun, hampir beberapa kali tak bisa bayar gaji pegawai. Kami jalani terus dan alhamdulillah sekarang sudah bisa membiayai 2 grup, Recapital dan Saratoga. Kami sekarang punya pondasi yang kuat dan bisa memberikan pekerjaan kepada 20 ribu karyawan.

T: Apa titik balik dari saat jatuh bangun tersebut menjadi usaha yang pondasinya kuat?

J: Titik baliknya saya rasa sekitar 4-5 tahun setelah mulai menapak jadi pengusaha. Saya melihat bahwa ternyata kalau kita berikan 100 persen dan full comitment terhadap usaha hasilnya akan baik. Para pelanggan, klien, nasabah maupun investor yang mempercayai kami untuk mengelola dana maupun perusahaan yang kami beri advice untuk melakukan restrukturisasi bisa memberikan kepercayaan.

Melihat sosok pengusaha muda, rupanya mereka tidak serta merta menilai pengusaha muda minim pengalaman. Ternyata mereka akan memberikan kepercayaan kalau pengusaha mudanya bisa menyerap begitu banyak pengalaman, bisa menghasilkan solusi dari permasalahan keuangan dan bisnis yang mereka hadapi.

T: Apakah Anda sempat berpikir untuk menyerah?

J: Tahun ketiga itu memang sempat terpikir untuk meneruskan atau mundur. Waktu itu sedang susah-susahnya melihat ada klien yang tak bayar tagihan, susah memotivasi karyawan. Ada seribu pertanyaan di kepala kami, teruskan atau mundur.

Di situlah keteguhan dan loyalitas entrepreneur diuji. Apakah dia loyal terhadap tujuan menjadi entrepreneur. Tujuan saya waktu itu adalah sukses dan memberi manfaat yang lebih untuk sekitar dengan menciptakan lapangan kerja. Kalau kita fokus dan loyal di tujuan kita, insya allah kita akan mendapatkan titik balik di tujuan tersebut.

T: Saat Anda dipecat tahun 1997, apa ketakutan terbesar saat itu?

J: Waktu itu saya baru punya keluarga. Saya berpikir bagaimana kasih makan anak saya. Anak saya waktu itu baru berumur beberapa bulan. Saya sudah dibiasakan selama 8 tahun bekerja dan menerima income rutin dan nggak pusing terhadap uang belanjaan. Tiba-tiba saya mendapati kenyataan ini. Dunia betul betul gelap, pekat. Seperti nggak ada solusi.Akhirnya saya putuskan, survival insting saja, kembali ke Indonesia. Saya kembali ke rumah orang tua, karena rumah saya ludes. Harta saya habis dijaminkan ke bank untuk investasi di pasar saham. Waktu itu semua saham kan jebol.

Saya putus asa, tak percaya diri, teman-teman saya memandang saya lain. Di kultur kita kegagalan dianggap sebagai akhir dari segalanya. Padahal di dunia entrepreneur, kegagalan adalah akhir dari suatu chapter yang baru. Chapter yang akan dimulai adalah dimana seseorang bisa belajar dari kegagalan dan menjadikannya sebagai anak tangga menuju kesuksesan.

T: Siapa yang paling berjasa dalam momen kebangkitan Anda?

J: Keluarga pastinya. Momen kebangkitan ini kalau saya nggak punya istri dan orang tua yang memberi kesempatan dan memberi dukungan, doa. Saya beruntung ketemu teman SMA saya Rosan (Rosan Perkasa Roeslani, Direktur Utama PT Recapital Advisors) dan kami memulai Recapital. Saya juga beruntung dipertemukan lagi dengan pak Edwin Suryajaya yang sudah saya kenal 5 tahun sebelumnya. Kami mulai menata bisnis apa yang menurut saya akan bisa berkembang. Bisnis yang bukan hanya survival tapi juga usaha yang akan memberi penghidupan pada orang banyak. Saya selain berhutang budi kepada ibu saya juga pada pak William Suryajaya yang memberikan mentorship selama 2 tahun intensif, tentang bagaimana pengusaha tidak hanya mencari keuntungan tapi juga menjadi aset bangsa, saya belajar banyak soal itu.

T: Apakah peluang industri ekstraktif di Indonesia masih terbuka?

J: Masih terbuka luas, lihat saja kita nomor satu pengekspor batubara thermal di dunia, emas mungkin nomor dua. Kakao kita nomor dua, kelapa sawit nomor satu, tembaga juga sangat potensial. Semua sumber mineral penting yang akan dipakai oleh produk industri dapat ditemui di Indonesia, semua itu belum digarap. Jadi peluangnya masih terbuka lebar. Tapi saya ingin mengajak pengusaha yang bergerak di bidang sumber daya alam untuk melihat bagaimana meng-capture nilai tambahnya di Indonesia. Selain memberikan pajak lebih besar, tapi juga memberi yang lebih besar kepada rakyat.

T: Kemiskinan di Indonesia masih tinggi, bagaimana cara mengatasinya?

J: Kemiskinan hanya bisa disolusikan dengan memberdayakan rakyat yang masih on the bottom of the pyramids, mereka dengan pendapatan di bawah 2 dolar sehari. Bagaimana memberdayakan mereka? Dengan memberikan peluang. Bagaimana berikan peluang? Menurut saya masalah kelompok bottom of the pyramids adalah peluang. Kita harus bisa menghadirkan peluang dalam bentuk akses pada microfinance. Tiba-tiba teman-teman di bottom of the pyramids ini punya alat untuk menangkap peluang tersebut.

Makanya kita sebut sekarang lebih dari 42 juta unit usaha mikro kecil menegah yang telah lahir di Indonesia. 60 persen pendapatan domestik bruto disumbang UMKM, yang disebut bottom itu. Nah dengan memberi microfinance maka tiba-tiba hadir semua peluang pada mereka. Di situ adalah cikal bakal mereka melahirkan suatu usaha yang bisa mengangkat harkat martabat mereka dan menaikkan derajat mereka dari bottom of the pyramids ke kelas menengah.

T: Kuncinya wiraswasta?

J: Kuncinya entrepreneurship. dan ini saya sudah bicara di kampus, SMA-SMA. Think like an entrepreneur. memang nggak semua orang harus jadi entrepreneur, tapi berpikirlah sebagai seorang wirausaha untuk mengatasi berbagai masalah dalam keseharian kita. Bagaimana kita melihat peluang yang terus ada di balik setiap krisis. Bagaimana kita menghadapi hidup dengan penuh komitmen dan tak mudah putus asa. itu kan sifat-sifat dari seorang pengusaha.

Kalau punya kemampuan hadirkan pola pikir itu kepada akademisi, birokrat, pegawai pemerintah, pegawai swasta, maka akan terbentuk culture kewirausahaan, maka inovasi bangsa akan meningkat dan perekonomian pada ujungnya akan menghasilkan nilai growth rate yang lebih tinggi untuk bangsa tersebut. Indonesia hanya punya 0,18 persen populasi yang menjadi enterpreneur, kalau tak salah kurang dari 500 ribu. Tugas kita untuk pada 2020 mencetak setidaknya 5 juta entrepreneur yang sanggup mengisi pembangunan dan menciptakan lapangan kerja.

T: Jika masyarakat sudah menjadi entrepreneur dan sejahtera, lalu di mana peran pemerintah?

J: Pemerintah posisinya tak seperti zaman sebelum krisis, di mana ada keterbatasan sumber daya, keterbatasan dana. Tugas pemerintah adalah menghadirkan iklim dunia usaha yang paling kondusif di mana perizinan dipermudah, anak-anak muda yang punya ide dalam hitungan 3 hari dapat meregistrasi ide tersebut dan memulai usahanya atau mendirikan perusahaannya. Kalau mendirikan perusahaan sudah dibuat begitu mudah, juga bagaimana memberikan akses permodalan yang paling baik terhadap perusahaan-perusahaan ini.

Terakhir kemampuan pengusaha untuk berinovasi, bagaimana human capacity pengusaha ini. Kalau tiga aspek ini bisa diberikan, pemerintah tak perlu terlalu repot memberi budget besar pada setiap sektor usaha. Cukup diberi insentif, cukup diberi iklim yang sangat ramah terhadap kegiatan dunia usaha, akan tumbuh dengan sendirinya.

T: Apa masalah terbesar pemerintah dalam memberi iklim yang kondusif buat dunia usaha?

J: Pemerintah juga harus menyelesaikan masalah infrastruktur yang dihadapi karena indonesia adalah negara yang infrastrukturnya sangat lemah. Mengirim barang dari Surabaya ke Jakarta lebih mahal daripada dari Surabaya ke Hongkong, padahal jaraknya sangat berbeda. Tapi karena infrastruktur lemah ini menggerus daya saing dunia usaha. Saya yakin kalau pengusaha bahu membahu dan pemerintah maka ekonomi kita bisa tumbuh 8-10 persen dan indonesia bisa menjadi bukan hanya Macan Asia tapi juara dunia dan ada beberapa pandangan bahwa Indonesia akan jadi ekonomi terbesar di Asia tahun 2050

Kiat Sukses Jadi Muslim Pengusaha

on Selasa, 26 April 2011

Pengusaha yang sukses tidak hanya sekedar kaya secara materi. "Pengusaha yang sukses adalah pengusaha yang sukses dunia maupun akhirat. Itulah para Muslim Pengusaha, " tutur Winarto AR pada workshop bertajuk " How to Start a Business" yang digelar komunitas pengusahamuslim.com di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Winarto, seorang Muslim yang ingin sukses menjadi pengusaha harus memenuhi dua kriteria. Selain harus profesional papar dia, seorang Muslim pengusaha pun harus memiliki basis syariah. "Yakni, menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam bisnisnya," ungkap pengusaha dan konsultan properti ini.

Berbekal kedua kreiteria itu, lanjut Winarto, bisnis pun akan berkah, mudah, dan lancar. Ia menambahkan, Muslim pengusaha yang baik selalu berhati-hati dalam menjalankan roda bisnisnya sehingga tidak tergelincir pada hal-hal yang dilarang atau dimurkai Allah SWT. " Pengusaha yang telah berbisnis selama puluhan tahun itu menegaskan, seoarang Muslim pengusaha tak boleh mengurangi takaran atau timbangan dan juga dilarang menyuap. Anda tentu bertanya langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan oleh seorang Muslim agar menjadi pengusaha sukses?

Pendiri dan Chairman PT Zahir Internasioanl Fadil Fuad Basymeleh, mengungkapan, setidaknya ada 10 langkah untuk menjadi Muslim Pengusaha yang berhasil, Pertama, harus ada motivasi yang kuat untuk menjadi orang yang sukses."tulislah 50 mimpi Anda yang hebat-hebat. Tempel daftar tersebut di dinding sehingga anda bisa membacanya setiap hari, terutama di saat semangat Anda menurun."
Kedua, pekuat tawakal kepada Allah. Fadil pun mengutip Alquran surat Ali Imran ayat 159, yang artinya," Apabila kamu suda berazam, maka bertawakallah kepada Allah." Menurut dia, dengan bertawakal, seorang Muslim akan menitipkan masa depan diri, keluarga, maupun usaha kita kepada Allah sambil berikhtiar.
Peraih penghargaan wirausahawan terbaik dan APICTA Award untuk produk Zahir Accounting itu menambahkan, kunci sukses yang ketiga, yakni jangan memaksakan diri untuk berbisnis sesuai dengan gambaran ideal yang anda miliki.
"Mulailah dengan peluang dan kesempatan yang ada di tangan Anda. Percayalah kepada takdir dan rezeki Allah."
Keempat, pilihlah bisnis yang dapat anda kuasai dengan cepat. "Intinya , manfaatkan tangible dan intangible assets yang and miliki, tuturnya. Langkah kelima adalah menentukan diferensiasi produk yang Anda hasilkan, sehingga berbeda dengan produk-produk lain yang sudah lebih dulu ada.
Langkah keenam, kata Fadil, pilihlah fokus bisnis dan bekerjalah secara fokus."Kalau fokus, kita akan lebih kuat dan kreatif." Tuturnya. Langkah ketujuh, mencakup dua hal. Yakni, carilah teman bisnis atau bermitralah. "Rosulullah menegaskan bahwa bila dua orang berserikat, maka Allah menjadi pihak yang ketiga, selama kedua orang atau salah satu orang tersebut tidak khianat. Usaha yang didalamnya Allah ikut serta sudah pasti berkah dan sukses."

Selain itu, jangan takut menggaji pegawai. "Jangan khawatir soal gaji karyawan. Sebab, yang menanggung rezeki karyawan kita itu adalah Allah SWT, bukan kita. Dalam Alquran Surah Az-Zukhruf ayat 32, Allah SWT menegaskan, akan menjamin rezeki makhluk-makhluk-Nya, termasuk karyawan kita."
Langkah kedelapan, hal yang tidak kalah pentingnya adalah perkuat kesabaran."Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu." Kada Fadil. Langkah kesembilan, hindari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, hal tersebut akan membuat hidup sempit dan tidak berkah.
Langkah kesepuluh, pelajarilah kunci-kunci pembuka rezeki."Kalau semua langkah ini diterapkan Insya Allah kita akan menjadi pengusaha yang sukses dunia dan akhirat."pungkasnya.
Sumber : Koran Republika 24 Mei 2009

GUTERA : GUNUNGKIDUL PUTERA

on Kamis, 10 Juni 2010

Biar semua mengatakan aku anak udik
Biar semua mengatakan bahwqa aku anak gunung
aku tak peduli,
aku hanya ingin berkarya seperti apa adanya
tanpa memandang aku dari mana aslnya
karena nantinya.........
bukanlah yang bernilai darimana kita berasal
tapi,........
karya nyata apa yang telah kita persembahkan
maju terus !!!!!!!!?

MEMULAI USAHA

on Senin, 05 Oktober 2009

Dewasa ini, dunia wirausaha tampaknya mulai diminati masyarakat luas. Meski demikian informasi tentang kewirausahaan terasa masih kurang, banyak orang merasa masih belum jelas tentang aspek-aspek apa saja yang melingkupi dunia wirausaha.
Sebagian orang beranggapan bahwa kewirausahaan adalah dunia milik para pengusaha besar dan mapan, lingkungannya para direktur dan pemilik PT, CV serta berbagai bentuk perusahaan lainnya yang mungkin sudah “turunan orang kaya”. Oleh karena itu, kewirausahaan sering dianggap sebagai wacana tentang bagaimana menjadi kaya. Sedang kekayaan itu sendiri seakan-akan merupakan symbol keberhasilan dari kewirausahaan.
Tidak hanya sebagian besar masyarakat awam yang berpikir demikian, ternyata beberapa lembaga pembinaan kewirausahaan juga mempunyai persepsi yang miripdengan hal tersebut. Sering dalam even-even tertentu, lembaga tersebut menampilkan figure tokoh-tokoh sukses, pengusaha besar dan terkemuka, yang berhasil menjadi kaya dengan jalan berwirausaha. Terlepas dari siapa tokoh-tokoh sukses dan kaya yang ditampilkan, serta bagaimana cara mendapatkan kekayaannya, pertanyaannya” benarkah kewirausahaan merupakan wacana tentang bagaimana caranya untuk menjadi kaya?”
Kalau bicara sekedar menjaadi kaya, tentu semua orang maklum bahwa tidak semua orang kaya adalah pengusaha, sebaliknya tidak semua pengusaha adalah orang kaya. Rata-rata pejabat di Indonesia sudah termasuk orang kaya. Karyawan swasta, terutama para general manager dan para direktur banyak yang hidup di atas rata-rata. Bahkan, ada pengemis yang menjalankan profesinya sejak tahun 1987, memiliki penghasilan lebih dari Rp.400.000,-per hari. Dengan penghasilan sebesar itu dia telah memiliki rumah dan kendaraan yang layak. Sekarang dia tetap menjalankan profesinya tersebut dan tidak berkeinginan untuk alih profesi yang lebih elegan.

Kendala memulai wirausaha
Menjadi kaya dan dapat menghidupi keluarga dengan layak tentu keinginan banyak orang. Jika memamng berwirausaha bisa menjadi jalan terwujudnya keinginan tersebut, mengapa tidak banyak orang melakukannya? Banyak alasannya, antara lain tidak semua orang merasa memiliki kemampuan berwirausaha, ragu akan keterampilan yang dimilikinya, dan paling banyak karena alas an tidak memiliki modal. Oleh karena mereka beranggapan bahwa modal adalah segala-galanya, maka perhitungan investasi, operasional, dan tingkat pengembalian modal menjadi begitu rumit dan menakutkan. Sehingga banyak orang lebih memilih sebagai sosok pencari kerja daripada membuka usaha atau berwirausaha.
Modal selama ini lebih identik dengan pengertian uang. Padahal modal merupakan sumberdaya yang menjadi kekayaan perusahaan. Oleh sebab itu, modal tidak harus selalu berupa uang, akan tetapi bisa berupa hal-hal yang bersifat intangible seperti semangat/antusiasme yang besar untuk menjadi sukses, relasi/jejaring, pemahaman terhadap pasar, dan sebagainya.

Keberanian
Dengan pemahaman “modal”seperti diatas, seseorang yang tidak memiliki uang terbuka peluang untuk menjadi wirausahawan. Banyak orang menyebut modal non-uang adalah modal “dengkul”, dalam arti bermodalkan kaki sendiri seseorang dapat menahan beban dan menjalankan usaha. Apabila seseorang tidak memiliki “dengkul” sendiri, maka dapat menggunakan “dengkul” orang lain. Orang lain tidak akan merasa dirugikan sepanjang ada konpesasi yang menarik. Membangun kemitraan/jejaring merupakan kombinasi yang rasional dan menjadi kekuatan yang lebih besar dibandingkan denhgan sumber daya uang itu sendiri.
Keberanian mengambil resiko adalah syarat utama untuk menjadi wirausaha. Keberanian memulai usaha dengan modal dengkul menandakan kapasitas, kekuatan dan daya saing pewirausaha itu sndiri. Semua orang memiliki potensi menjadi wirausaha modal “dengkul”. Perbedaan menyolok satu dengan yang lain adalah keberanian bertindak. Sikap berani bertindak mampu mengeliminir hambatan terbesar merintis bisnis, yaitu permodalan. Hambatan ketidak tersediaan modal hendaknya jangan dijadikan alas an untuk tidak memulai. Tetapi sebaliknya sebagai “trigger” lahirnya kreativitas dan gagasan yang gemilang. Setiap gagasan atau ide yang lahir dari seorang yang tak bermodal memiliki daya tahan untuk bertahan dan berpotensi tumbuh berkembang.

Bagaimana memulainya?

Untuk menjadi seorang wirausaha tentunya banyak cara yang bisa dilakukan, selain keberanian mengambil suatu sikap, tentunya ada beberapa hal yang dapat dijadikan satu syarat, antara lain :

1. Memahami potensi diri.
Setiap orang siberi kelimpahan potensi diri, menjadi kewajiban kita memahami dan memberdayakan potensi tersebut. Dengan potensi dan kelebihan kita, dipadukan dengan pemahaman akan peluang usaha, dapat melahirkan ide dan gagasan usaha baru yang memungkinkan untuk dilaksanakan.

2. Tentukan visi dan tujuan.
Visi berfungsi sebagai kekuatan yang memfokuskan langkahnya pada arah tujuan dan impian yang ingin dicapai seseorang. Seorang wirausaha sangat membutuhkan visi untuk menyemangati dirinya mencapai keberhasilan usahanya. Dengan berbekal impian ia akan senantiasa termotivasi dan mampu mengelola potensi dirinya kepada kesuksesan.

3. Visualisasikan
Untuk lebih memudahkan memberi gambaran bentuk usaha, produk, cara pemasaran, dan juga sekaligus tahap tahap yang akan dilakukan, maka sebaiknya dilakukan visualisasi terhadap rencana usaha tersebut. Dalam hal ini kreativitas dan inovasi menjadi factor yang sangat penting dalam penciptaan produk maupun usaha yang dapat diterima oleh pasar.

4. Take Action.
Perubahan yang akan kita lakukan sebaik apapun tidak akan membawa keberhasilan jika kita suka menunda perubahan tersebut. Seorang pengusaha harus memiliki sikap responsive untuk segera bertindak(take action). Sikap responsive ini terlihat dari perubahan yang diupayakan untuk mengatisipasi perubahan yang terjadi di lingkungan bisnisnya. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan perubahan? Jawabnya SAAT INI. Sebagai mana kata-kata bijak menyatakan “lakukan perubahan mulai dari diri sendiri,mulai dari yang terkecil, dan mulai saat ini.

5. Doa Profetik
Segala sesuatu terjadi tentu saja tidak bisa lepas dari kehendak-Ny, oleh karena itu semua segala upaya akan lebih lengkap jika disertai dengan doa. Yang dimaksud dengan doa profetik adalah doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, selaras antara pikiran dan perasaan, sehingga menimbulkan pengakuan adanya kekuasaan Alloh untuk terjadinya segala sesuatu yang selanjutnya menimbulkan ketaqwaan diri yang semakin tinggi. Doa tersebut akan mendorong seorang wirausaha untuk berusaha sekuat tenaga dalam rangka mencapai keberhasilan dunia dan akhirat.



(dikutip dari Harian Jogja tanggal 27 September 2009, ditulis oleh Muh Roni Indarto Dosen STIM YKPN Yogyakarta)

Akhirnya..... jadi juga

on Minggu, 17 Mei 2009


hari ahad. 17 mei 2009, mungkin adalah hari yang penuh degup debar jantung. bagaimana tidak. setelah berbulan bulan nerencanakan untuk launching. akhirnya Super Bean pun jadi lahir juga.

dipilihlah UGM sebagai tempat mangkal perdana. setelah usai sholat subuh, bergegaslah diriku menggenjot sepeda motor grand 95 warna merah menuju. Graha Sabha Pramana UGM. setelah nyari tempat yang kosong .akhirnya jualanpun di gelar.

hari ini. mungkin belum begitu kelihatan untung yang menggembirakan. balik modal dan cukup baik lah. tetapi yang sangat berharga adalah pertemuan dengan mbak ulli sarjana lulusan UGM dengan suaminya yang juga gelar dagangan. Nasehat yang tulus dan sangat memotivasi mengalir sepanjang waktu berjualan . thank s Miss. God bless U.